Pangan yang terjangkau, peternak yang sejahtera
Harga ayam dan telur menyentuh dapur semua keluarga, dari Kotagede sampai Kulon Progo. Kuncinya ada di tata kelola rantai pasok, bukan sekadar operasi pasar sesaat.
Fadhl Muhammad Firdaus, B.I.B., M.Sc.
Tumbuh di Yogyakarta, bekerja di pasar modal dan agribisnis. Sehari-hari mengurus perusahaan tercatat yang berakar di Jogja, dan memikirkan hal yang sama dengan banyak warganya: harga pangan yang stabil, lapangan kerja untuk anak muda, dan kesempatan yang lebih adil.
Kenali lebih dekat →sektor yang ditekuni langsung: pangan, keuangan, dan teknologi
tahun di pasar modal dan industri perunggasan terintegrasi
IPK saat lulus program magister di NTU Singapura
Tentang
Fadhl Muhammad Firdaus, B.I.B., M.Sc. Lahir dan besar di Yogyakarta, bekerja lintas negara.
Fadhl lahir dan besar di Yogyakarta, dekat dengan dunia peternakan rakyat, dunia yang mengajarkan bahwa hasil tidak pernah datang instan. Ayam tidak bisa dipaksa besar dalam semalam; ekonomi juga tidak. Sekolahnya sekolah negeri biasa: SMP 8, lalu SMA 3 Yogyakarta.
Hari ini ia menjabat sebagai Executive Director di sebuah perusahaan perunggasan terintegrasi yang tercatat di Bursa Efek Indonesia, mengurus hal-hal yang jarang terlihat publik: kepatuhan regulasi, keterbukaan informasi, dan bagaimana perusahaan tetap sehat agar ribuan orang di rantai pasoknya (peternak mitra, pekerja kandang, sopir pakan, banyak di antaranya warga Yogyakarta dan sekitarnya) tetap punya penghasilan.
Di sela itu, ia menekuni investasi dan pengembangan teknologi: dari infrastruktur jaringan untuk sekolah-sekolah di daerah, sampai belajar langsung dari ekosistem startup Asia Tenggara. Sejauh apa pun bekerja, pulangnya tetap ke Jogja. Baginya, kebijakan publik yang baik lahir dari orang yang pernah merasakan sendiri rumitnya menjalankan usaha, dan yang tahu persis untuk siapa ia bekerja.
Lihat rekam jejak →Perjalanan
Memulai dari dunia agribisnis dan keuangan korporasi, memahami HPP peternak, ekonomi pakan, dan mengapa harga telur di pasar bisa naik-turun.
Menangani transaksi korporasi, hubungan investor, dan kepatuhan OJK di perusahaan perunggasan terintegrasi yang tercatat di bursa.
Mengarahkan strategi perusahaan managed service provider, termasuk proyek konektivitas untuk sekolah-sekolah di berbagai daerah di Indonesia.
Berkeliling di Yogyakarta dan sekitarnya, bertemu peternak, pelaku UMKM, dan anak muda; mencatat masalah nyata sebelum bicara solusi.
Pendidikan
Jalur yang biasa saja, ditempuh dengan sungguh-sungguh, dan bisa ditempuh anak Yogyakarta mana pun.
Bisnis internasional: pemasaran, keuangan, manajemen, dan kewirausahaan.
Lulus dengan IPK 4,00. Spesialisasi venture capital, pembiayaan startup, dan strategi penskalaan usaha.
Area Fokus
Harga ayam dan telur menyentuh dapur semua keluarga, dari Kotagede sampai Kulon Progo. Kuncinya ada di tata kelola rantai pasok, bukan sekadar operasi pasar sesaat.
Akses pembiayaan yang adil untuk UMKM, pasar modal yang melindungi investor ritel, dan literasi keuangan yang jujur, tanpa janji cepat kaya.
Internet dan perangkat untuk sekolah di daerah bukan kemewahan, melainkan prasyarat. Anak di desa berhak atas kesempatan yang sama dengan anak di kota.
Alat bantu warga
Jawab 5 pertanyaan singkat, lalu lihat program yang berpotensi cocok beserta syarat dan kanal resminya. Tanpa akun, tanpa menyimpan data.
Politik yang baik itu seperti beternak: sabar, teliti, dan tidak boleh bohong soal angka.Fadhl Muhammad Firdaus
Berita & Liputan
Sorotan media dan perkembangan terbaru, bukti bahwa kerja nyata selalu punya cerita untuk dibagikan.
Perjalanan seorang profesional muda yang memilih pulang ke industri yang membesarkannya (perunggasan) dan membawanya melantai di Bursa Efek Indonesia. Cerita tentang kerja panjang, bukan keberuntungan semalam.
IBTimes.ID · Baca liputan lengkap →Kontribusi
Memastikan perusahaan tetap sehat berarti menjaga penghasilan peternak mitra, pekerja kandang, dan sopir pakan, ribuan keluarga yang bergantung pada ekosistem yang sama.
Mengarahkan proyek konektivitas yang menghubungkan sekolah-sekolah di berbagai provinsi, agar anak di desa punya kesempatan belajar yang sama dengan anak di kota.
Aktif menyuarakan keterbukaan informasi dan tata kelola yang baik, supaya investor ritel tidak jadi pihak terakhir yang tahu dan pertama yang rugi.
Mengisi diskusi komunitas dan kelas literasi keuangan untuk mahasiswa dan anak muda, membahas investasi secara jujur, tanpa jargon dan tanpa janji cepat kaya.
Gagasan & Catatan
Mari Terhubung
Undang untuk diskusi komunitas, kirim masukan, atau sekadar bertukar pikiran soal pangan, ekonomi, dan masa depan Yogyakarta.
Every year, Yogyakarta does something extraordinary: it educates hundreds of thousands of young people from all over Indonesia, then watches most of its best graduates leave. For Jakarta, for Tangerang, for abroad. The city that educates the most is among those that enjoys the least of the results.
I have no right to judge those who leave, because I was once part of that current myself: SMP 8 and SMA 3 Yogyakarta, then Australia, then work in Jakarta, then graduate school in Singapore. The reason people leave is almost always the same and almost always reasonable: the jobs are there, and the pay here does not compare. Wages in Yogyakarta are among the lowest in Indonesia, while the cost of living slowly climbs with the tourism economy. That gap is not about love for a hometown; it is about the arithmetic of a life.
So the question is not "how do we stop young people from leaving"; leaving is good, and coming home with knowledge is even better. The question is: how do we make coming home a rational economic choice, not a sacrifice.
I believe the answer is not waiting for a giant factory to relocate to Jogja. It lies in three things already growing in this soil. First, value-added agribusiness. The company I work for was born and raised in Yogyakarta, out of a family poultry business, and today it is listed on the Indonesia Stock Exchange, proof that a national-class company can grow from here, and every barn, feed warehouse, and processing facility is a local job. There could be many more like it if access to capital and business certainty were fixed.
Second, a digital and creative economy that can be done from anywhere. Jogja's young people have already proven themselves in games, design, animation, and content. What they need is not motivational training but reliable internet, affordable workspaces, and reachable clients, so a Jakarta salary can be earned while living in Jogja. Third, small businesses moving up a class: from food stall to brand, from artisan to exporter. Jogja has the stories, the skills, and a tourist market at its doorstep; what is often missing is serious financing and mentorship.
Jogja does not lack smart people. Jogja lacks economic reasons for them to stay. And those reasons are not fate, they can be built, policy by policy, business by business. I write this as someone who has already made his decision: however far I go, home is always Jogja.
This piece is the personal opinion of a Yogyakarta native working in agribusiness and capital markets.
Every time egg prices rise, the media lights up. Every time they crash, hardly anyone writes a word. Yet it is when prices crash that the real drama happens, not in the consumer's kitchen, but in the farmer's coop.
I have worked in this industry long enough to know that egg prices are not a mystery. The structure is simple: around 70 percent of the cost of producing an egg is feed, and that feed is mostly corn and soybean meal. When corn prices rise, farmers' costs rise. When the layer population overshoots because everyone expanded while prices were good, six months later the market floods and prices fall below production cost. The cycle repeats, and the ones most battered are always the same: small independent farmers.
Consumers bear the risk when prices rise, true, and it is hard on families living paycheck to paycheck. But consumers bear it for weeks. Small farmers bear a price crash for months, with feed loans that must still be paid and chickens that must still eat every day. Many end up selling productive hens as spent birds, exiting the business, and national supply concentrates further into the hands of the biggest players.
What can be done? Three things, in my view. First, population and production data that is transparent and trusted by everyone, so decisions to expand or cut back are not made by guesswork. Second, stable feed ingredient prices, because talk of stabilizing egg prices is pointless if corn prices are left to run wild. Third, fair partnerships, where risk is shared proportionally between large companies and small farmers rather than dumped entirely on the weakest party.
One-off market operations are like fever medicine: necessary, but they do not cure the disease. The disease is in governance. And governance can only be fixed by people willing to sit with the numbers for a long time, not those who show up only when prices make the news.
This piece is a personal opinion, based on experience working in the integrated poultry industry. Cost-structure figures are common industry ranges.
The number of capital market investors in Indonesia has now passed well into the tens of millions, extraordinary growth worth celebrating. Most of them are young, opening their first account through a phone app, buying their first share with savings. They come with a simple and legitimate hope: to own a piece of Indonesian companies, and to grow with the economy.
But there is another side rarely discussed honestly. Some of them come not because they were invited to invest, but because they were pumped, promised a stock that would "definitely fly" by people who had already bought lower. When the price actually rises and the promoters have already left, what remains are retail investors who bought the top and do not know what to do. In market terms, they become exit liquidity. In more honest language: they were treated as ATMs.
I work on the issuer side, the side that prepares reports, disclosures, and public expose sessions. From that seat I have learned one thing: retail investor protection begins with disclosure done in earnest, not disclosure that merely clears the minimum bar. A healthy issuer has nothing to fear from a small investor's questions. It is the issuer who stumbles over simple questions that deserves suspicion.
For retail investors, my advice is boring but proven: do not buy what you do not understand, be suspicious of anyone guaranteeing returns, and read the disclosures, those documents are written for you, not for analysts. For regulators and the exchange, the homework is faster enforcement against market manipulation, because punishment that arrives three years later saves no one.
A healthy capital market is one of the most powerful engines of shared prosperity, if it protects the small. If it does not, it becomes merely a new way of moving many people's money into a few people's pockets. We still have time to choose the former.
This piece is a personal opinion and does not constitute a recommendation to buy or sell any security.
Over the past year, I have been involved in a project connecting dozens of school sites across the regions to the internet. On paper, the work sounds technical: network equipment, firewalls, bandwidth, access points. On the ground, it turned out to be both far simpler and far more complicated than that.
Simpler, because the need is real and beyond debate. The children at those schools know exactly what the internet can bring, they see it on their parents' phones. Their teachers know too. Not one person in the field ever asked, "what is school internet for?" That question only comes up in meeting rooms in the city.
More complicated, because connectivity turns out to be only the first layer. Once the internet is on, the next questions come in a rush: where are the devices? Is the electricity stable? Who maintains it when it breaks? Have the teachers been trained? Is there learning content that fits the curriculum? Infrastructure without an ecosystem is just a monument, a router glowing in a room no one uses.
From that experience, I draw three lessons. First, school digitalization should be budgeted as an ongoing service, not a one-time procurement, with maintenance and teacher training built in. Second, technical standards must be realistic for regional conditions: equipment that tolerates heat, survives voltage swings, and can be fixed by a local technician is worth more than the most advanced device that can only be serviced in Jakarta. Third, measure success by usage, not installation. A connected school is a statistic; a child doing their own research assignment over the school's internet; that is a result.
The education gap between city and village will not be closed by cables and signal alone. But without cables and signal, that gap is guaranteed never to close. Start with what can be started.
Written from direct involvement in a school connectivity project across several Indonesian provinces.
A year of graduate school in Singapore taught me two things at once: how much we can learn from that country, and how dangerous it is to think we can copy it wholesale.
What is worth learning is obvious. The way they treat vocational education with respect rather than as a second-class option. The way their bureaucracy serves at a speed that lets entrepreneurs plan with certainty. The way they built a startup ecosystem, not with slogans, but with a pipeline connected from campus to seed funding to mentors to market access. I sat in venture capital classes there and saw it for myself: what makes the system work is not how clever its people are, but how certain its rules are.
But Singapore is a city-state of six million people with a single layer of government. Indonesia is an archipelago of 280 million, thousands of islands, hundreds of languages, and three layers of government each with its own interests. A policy that in Singapore is settled with one decision must, in Indonesia, travel through many hands. Copying the form without understanding the context produces only disappointment, or worse: failed policies that lead people to conclude "Indonesia simply cannot."
So what I propose is learning at the level of principles, not products. The principles: certain rules beat generous incentives. Fast service beats grand programs. Honest data beats beautiful reports. Those principles can be applied in any regency in Indonesia, on any budget, without needing to become Singapore.
And one more thing often forgotten: Singapore built itself acutely aware of what it lacked, no natural resources, no domestic market. Indonesia is the opposite: we are often lulled by what we have. Perhaps the greatest lesson from Singapore is not its policies at all, but its posture, working like a country that has nothing, when we have everything.
Written after completing a master's program at Nanyang Technological University, Singapore.
Every time smallholder farming struggles, the response is almost always the same: aid. Aid in chicks, aid in feed, aid in capital. The intent is good, and in emergencies it is genuinely needed. But after years of watching this cycle from inside the industry, I have arrived at a conclusion that may be unpopular: what small farmers need most is not aid, it is certainty.
Certainty of what? First, price certainty. Farmers can live on thin margins, but they cannot live with prices above production cost today and half that next month. Stabilization instruments (enforced reference prices, credible supply data, absorption mechanisms during oversupply) are worth far more than aid that arrives after the farmer has already gone under.
Second, regulatory certainty. Rules on partnerships, on feed ingredient imports, on market segmentation between industrial and smallholder farms, all have been written before. The problem is not the absence of rules; it is that rules keep changing and enforcement is selective. Small operators are the least able to adapt to uncertainty, because they have no reserves to survive a transition.
Third, certainty of access to financing. Farmers with years of production records are still routinely deemed "not bankable" simply because they have no land certificate to pledge. Yet the data exists: feed purchase histories, harvest records, delivery records to collectors. In a digital era, that data can serve as reputational collateral, if financial institutions are willing and regulation supports it.
Charity positions farmers as objects to be rescued. Certainty positions them as business people to be respected. Indonesia's farmers have proven they can survive the hardest conditions imaginable, imagine what they could achieve on a level playing field.
This piece is a personal opinion based on experience in a poultry industry that partners with smallholder farmers.
There is an anxiety I pick up every time I talk with students and young people: the fear of not getting a seat. Jobs feel scarce, competition feels brutal, and now there is one more thing, artificial intelligence, which is said to be coming for many jobs. The anxiety is understandable. But let me offer a slightly different way of seeing it.
Throughout history, technology has indeed erased jobs, and has always created new jobs that did not yet have names. Ten years ago there was no such profession as content creator supporting millions of people. The danger is not the change itself, but standing still in the middle of it. So the right question is not "which job is safe?" but "which capabilities let me keep moving?"
From working across several sectors at once (food, finance, technology), I see three capabilities whose value actually rises in the age of clever machines. First, the ability to understand real problems: machines are good at answering, but humans decide the questions. People who deeply understand the problems in a chicken coop, a market, a school will always be needed to point technology in the right direction. Second, the ability to be trusted: reputation, integrity, a record of keeping your word, things that cannot be downloaded. Third, the willingness to do unglamorous work: Indonesia's real sector (agriculture, logistics, manufacturing) is short of young people precisely because everyone is queuing for the sectors that look cool.
For policymakers, the homework is clear: vocational education genuinely connected to industry, not just diplomas. Access to capital for young people who want to build, not only vacancies for those who want to apply. And internet that reaches everyone, because today's skills are learned online, a child without a connection starts two steps behind before the race begins.
Indonesia's young generation is the largest and best-educated in the country's history. A demographic bonus is only a bonus if we prepare for it. If we do not, it becomes a bill. That choice is being made now, in classrooms, in budget meetings, and in every young person's decision to learn one more new skill.
Drawn from conversations with students and youth communities throughout 2025–2026.
Setiap tahun, Yogyakarta melakukan sesuatu yang luar biasa: mendidik ratusan ribu anak muda dari seluruh Indonesia, lalu melepas sebagian besar lulusan terbaiknya pergi. Ke Jakarta, ke Tangerang, ke luar negeri. Kota yang paling banyak menyekolahkan justru termasuk yang paling sedikit menikmati hasilnya.
Saya tidak berhak menghakimi yang pergi, karena saya pun pernah menjadi bagian dari arus itu: sekolah di SMP 8 dan SMA 3 Yogyakarta, lalu merantau ke Australia, bekerja di Jakarta, dan melanjutkan studi ke Singapura. Alasan orang pergi hampir selalu sama dan hampir selalu masuk akal: pekerjaannya ada di sana, dan gajinya tidak sebanding kalau di sini. Upah di DIY termasuk yang paling rendah di Indonesia, sementara biaya hidup pelan-pelan naik mengikuti kota wisata. Selisih itu bukan soal cinta pada kampung halaman; itu soal hitung-hitungan hidup.
Maka pertanyaannya bukan "bagaimana mencegah anak muda Jogja pergi"; merantau itu baik, dan pulang membawa ilmu lebih baik lagi. Pertanyaannya: bagaimana membuat pulang menjadi pilihan yang masuk akal secara ekonomi, bukan pengorbanan.
Saya percaya jawabannya bukan menunggu pabrik raksasa pindah ke Jogja. Jawabannya ada di tiga hal yang sudah tumbuh di tanah ini. Pertama, agribisnis bernilai tambah. Perusahaan tempat saya bekerja lahir dan besar di Yogyakarta, dari usaha peternakan keluarga, dan hari ini tercatat di Bursa Efek Indonesia, bukti bahwa perusahaan kelas nasional bisa tumbuh dari sini, dan setiap kandang, gudang pakan, serta fasilitas pengolahannya adalah lapangan kerja lokal. Yang seperti ini bisa diperbanyak kalau akses modal dan kepastian usahanya dibereskan.
Kedua, ekonomi digital dan kreatif yang bisa dikerjakan dari mana saja. Anak Jogja sudah membuktikan diri di industri game, desain, animasi, dan konten. Yang mereka butuhkan bukan pelatihan motivasi, melainkan internet yang andal, ruang kerja yang terjangkau, dan klien yang bisa dijangkau, supaya gaji Jakarta bisa diterima sambil tinggal di Jogja. Ketiga, UMKM yang naik kelas: dari warung menjadi merek, dari pengrajin menjadi eksportir. Jogja punya cerita, punya keterampilan, punya pasar wisata di depan pintu; yang sering tidak ada adalah pembiayaan dan pendampingan yang serius.
Jogja tidak kekurangan orang pintar. Jogja kekurangan alasan ekonomi untuk mereka tinggal. Dan alasan itu bukan takdir, ia bisa dibangun, kebijakan demi kebijakan, usaha demi usaha. Saya menulis ini sebagai salah satu yang sudah mengambil keputusannya: sejauh apa pun pergi, pulangnya tetap ke Jogja.
Tulisan ini adalah pendapat pribadi seorang warga Yogyakarta yang bekerja di sektor agribisnis dan pasar modal.
Setiap kali harga telur naik, media ramai. Setiap kali harga telur jatuh, hampir tidak ada yang menulis. Padahal justru di saat harga jatuh itulah drama yang sesungguhnya terjadi, bukan di dapur konsumen, tetapi di kandang peternak.
Saya bekerja di industri ini cukup lama untuk tahu bahwa harga telur bukan misteri. Strukturnya sederhana: sekitar 70 persen biaya produksi telur adalah pakan, dan pakan itu sebagian besar jagung serta bungkil kedelai. Ketika harga jagung naik, HPP peternak ikut naik. Ketika pasokan ayam petelur berlebih karena semua orang menambah populasi di saat harga bagus, enam bulan kemudian pasar kebanjiran telur dan harga anjlok di bawah biaya produksi. Siklus ini berulang terus, dan yang paling babak belur selalu pihak yang sama: peternak mandiri skala kecil.
Konsumen menanggung risiko saat harga naik, itu benar, dan itu berat untuk keluarga berpenghasilan pas-pasan. Tetapi konsumen menanggungnya beberapa minggu. Peternak kecil menanggung harga jatuh berbulan-bulan, dengan pinjaman pakan yang tetap harus dibayar dan ayam yang tetap harus makan setiap hari. Banyak yang akhirnya menjual ayam produktifnya sebagai ayam afkir, keluar dari usaha, dan pasokan nasional makin terkonsentrasi ke pemain besar.
Apa yang bisa dilakukan? Tiga hal, menurut saya. Pertama, data populasi dan produksi yang transparan dan dipercaya semua pihak, supaya keputusan menambah atau mengurangi populasi tidak dibuat dengan menebak-nebak. Kedua, stabilitas harga bahan pakan, karena percuma bicara stabilisasi harga telur kalau harga jagungnya dibiarkan liar. Ketiga, kemitraan yang adil, di mana risiko dibagi secara proporsional antara perusahaan besar dan peternak kecil, bukan dilempar seluruhnya ke pihak yang paling lemah.
Operasi pasar sesaat itu seperti obat penurun panas: perlu, tetapi tidak menyembuhkan penyakitnya. Penyakitnya ada di tata kelola. Dan tata kelola hanya bisa diperbaiki oleh orang yang mau duduk lama memahami angka-angkanya, bukan yang datang saat harga sedang jadi berita.
Tulisan ini adalah pendapat pribadi, ditulis berdasarkan pengalaman bekerja di industri perunggasan terintegrasi. Angka-angka struktur biaya adalah kisaran umum industri.
Jumlah investor pasar modal Indonesia kini sudah menembus belasan juta orang, pertumbuhan yang luar biasa dan patut dirayakan. Sebagian besar dari mereka anak muda, membuka rekening pertamanya lewat aplikasi di ponsel, membeli saham pertamanya dengan uang tabungan. Mereka datang dengan harapan yang sederhana dan sah: ikut memiliki perusahaan Indonesia, dan tumbuh bersama ekonominya.
Tetapi ada sisi lain yang jarang dibicarakan dengan jujur. Sebagian dari mereka datang bukan karena diajak berinvestasi, melainkan karena dipompa, dijanjikan saham yang "pasti terbang" oleh orang-orang yang sudah membeli lebih dulu di harga bawah. Saat harga benar-benar naik dan yang mengajak sudah keluar, yang tersisa adalah investor ritel yang membeli di pucuk dan tidak tahu harus berbuat apa. Dalam istilah pasar, mereka menjadi exit liquidity. Dalam bahasa yang lebih jujur: mereka diperlakukan sebagai ATM.
Saya bekerja di sisi emiten, sisi yang menyusun laporan, keterbukaan informasi, dan paparan publik. Dari posisi itu saya belajar satu hal: perlindungan investor ritel dimulai dari keterbukaan informasi yang sungguh-sungguh, bukan yang sekadar memenuhi syarat minimum. Emiten yang sehat tidak perlu takut pada pertanyaan investor kecil. Justru emiten yang gelagapan ditanya hal sederhana yang perlu diwaspadai.
Untuk investor ritel, nasihat saya membosankan tapi teruji: jangan beli apa yang tidak Anda pahami, curiga pada siapa pun yang menjamin keuntungan, dan baca keterbukaan informasi, dokumen itu ditulis untuk Anda, bukan untuk analis. Untuk regulator dan bursa, pekerjaan rumahnya adalah mempercepat penindakan terhadap manipulasi pasar, karena hukuman yang datang tiga tahun kemudian tidak menyelamatkan siapa-siapa.
Pasar modal yang sehat adalah salah satu mesin pemerataan kesejahteraan yang paling kuat, jika ia melindungi yang kecil. Jika tidak, ia hanya menjadi cara baru memindahkan uang orang banyak ke kantong segelintir orang. Kita masih sempat memilih yang pertama.
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan bukan merupakan ajakan membeli atau menjual efek tertentu.
Dalam setahun terakhir, saya terlibat dalam proyek yang menghubungkan puluhan lokasi sekolah di berbagai daerah ke internet. Di atas kertas, pekerjaannya terdengar teknis: perangkat jaringan, firewall, bandwidth, titik akses. Di lapangan, pekerjaannya ternyata jauh lebih sederhana sekaligus jauh lebih rumit dari itu.
Sederhana, karena kebutuhannya nyata dan tidak perlu diperdebatkan. Anak-anak di sekolah itu tahu persis internet bisa membawa apa, mereka melihatnya di ponsel orang tuanya. Guru-gurunya juga tahu. Tidak ada satu pun orang di lapangan yang bertanya "untuk apa internet di sekolah?" Pertanyaan itu hanya muncul di ruang rapat di kota.
Rumit, karena konektivitas ternyata baru lapisan pertama. Setelah internet tersambung, pertanyaan berikutnya datang beruntun: perangkatnya mana? Listriknya stabil tidak? Siapa yang merawat kalau rusak? Gurunya sudah dilatih belum? Konten belajarnya ada yang sesuai kurikulum tidak? Infrastruktur tanpa ekosistem hanya menjadi monumen, router menyala di ruangan yang tidak pernah dipakai.
Dari pengalaman itu, saya menarik tiga pelajaran. Pertama, proyek digitalisasi pendidikan harus dianggarkan sebagai layanan berkelanjutan, bukan pengadaan sekali beli, termasuk biaya perawatan dan pelatihan guru di dalamnya. Kedua, standar teknis harus realistis dengan kondisi daerah: perangkat yang tahan panas, tahan listrik naik-turun, dan bisa diperbaiki teknisi lokal lebih berharga daripada perangkat tercanggih yang hanya bisa diservis di Jakarta. Ketiga, ukur keberhasilannya dari pemakaian, bukan pemasangan. Sekolah terkoneksi itu statistik; anak yang mengerjakan tugas risetnya sendiri lewat internet sekolah, itulah hasil.
Kesenjangan pendidikan kota dan desa tidak akan selesai oleh kabel dan sinyal saja. Tetapi tanpa kabel dan sinyal, kesenjangan itu dijamin tidak akan pernah selesai. Mulai dari yang bisa dimulai.
Ditulis berdasarkan keterlibatan langsung dalam proyek konektivitas sekolah di berbagai provinsi di Indonesia.
Setahun bersekolah di Singapura mengajarkan saya dua hal sekaligus: betapa banyak yang bisa kita pelajari dari negara itu, dan betapa berbahayanya kalau kita berpikir bisa meniru mereka mentah-mentah.
Yang layak dipelajari jelas banyak. Cara mereka memperlakukan pendidikan vokasi dengan hormat, bukan sebagai pilihan kelas dua. Cara birokrasi mereka melayani dengan kecepatan yang membuat pengusaha bisa merencanakan usahanya dengan pasti. Cara mereka membangun ekosistem startup, bukan dengan slogan, tetapi dengan pipa yang tersambung dari kampus, pendanaan awal, mentor, sampai akses pasar. Saya duduk di kelas-kelas venture capital di sana dan melihat sendiri: yang membuat sistem itu bekerja bukan kecerdasan orangnya, melainkan kepastian aturannya.
Tetapi Singapura adalah negara-kota berpenduduk enam juta jiwa dengan satu lapisan pemerintahan. Indonesia adalah negara kepulauan berpenduduk 280 juta dengan ribuan pulau, ratusan bahasa, dan tiga lapis pemerintahan yang masing-masing punya kepentingan. Kebijakan yang di Singapura selesai dengan satu keputusan, di Indonesia harus berjalan melewati banyak tangan. Meniru bentuknya tanpa memahami konteksnya hanya menghasilkan kekecewaan, atau lebih buruk: kebijakan gagal yang membuat orang menyimpulkan "Indonesia memang tidak bisa".
Maka yang saya usulkan adalah belajar pada level prinsip, bukan produk. Prinsipnya: aturan yang pasti mengalahkan insentif yang besar. Pelayanan yang cepat mengalahkan program yang megah. Data yang jujur mengalahkan laporan yang indah. Prinsip-prinsip itu bisa diterapkan di kabupaten mana pun di Indonesia, dengan anggaran berapa pun, tanpa perlu menjadi Singapura.
Dan satu hal lagi yang sering dilupakan: Singapura membangun dirinya dengan sangat sadar akan kekurangannya, tanpa sumber daya alam, tanpa pasar domestik. Indonesia justru sebaliknya: kita sering terlena oleh kelebihan kita. Mungkin pelajaran terbesar dari Singapura bukan kebijakannya sama sekali, melainkan sikapnya, bekerja seperti negara yang tidak punya apa-apa, padahal kita punya segalanya.
Ditulis setelah menyelesaikan program magister di Nanyang Technological University, Singapura.
Setiap kali sektor peternakan rakyat kesulitan, respons yang muncul hampir selalu sama: bantuan. Bantuan bibit, bantuan pakan, bantuan modal. Niatnya baik, dan dalam keadaan darurat memang perlu. Tetapi setelah bertahun-tahun melihat siklus ini dari dalam industri, saya sampai pada kesimpulan yang mungkin tidak populer: yang paling dibutuhkan peternak kecil bukan bantuan, melainkan kepastian.
Kepastian apa? Pertama, kepastian harga. Peternak bisa hidup dengan margin tipis, tetapi tidak bisa hidup dengan harga yang hari ini di atas biaya produksi dan bulan depan jatuh separuhnya. Instrumen stabilisasi (acuan harga yang ditegakkan, data pasokan yang kredibel, mekanisme serap saat kelebihan produksi) jauh lebih berharga daripada bantuan yang datang setelah peternaknya bangkrut.
Kedua, kepastian aturan. Aturan kemitraan, aturan impor bahan pakan, aturan pembagian segmen pasar antara peternakan besar dan rakyat, semuanya sudah pernah dibuat. Masalahnya bukan tidak ada aturan; masalahnya aturan berubah-ubah dan penegakannya pilih-pilih. Pelaku usaha kecil adalah pihak yang paling tidak sanggup beradaptasi dengan ketidakpastian, karena mereka tidak punya cadangan untuk bertahan di masa transisi.
Ketiga, kepastian akses pembiayaan. Peternak dengan rekam jejak produksi bertahun-tahun masih sering dianggap "tidak bankable" hanya karena tidak punya sertifikat tanah untuk agunan. Padahal datanya ada: riwayat pembelian pakan, riwayat panen, riwayat setoran ke pengepul. Di era digital, data itu bisa menjadi agunan reputasi, kalau lembaga keuangannya mau dan regulasinya mendukung.
Belas kasihan menempatkan peternak sebagai objek yang ditolong. Kepastian menempatkan mereka sebagai pelaku usaha yang dihormati. Peternak Indonesia sudah membuktikan bisa bertahan dalam kondisi yang paling sulit sekalipun, bayangkan apa yang bisa mereka capai kalau lapangannya dibuat rata.
Tulisan ini adalah pendapat pribadi berdasarkan pengalaman di industri perunggasan yang bermitra dengan peternak rakyat.
Ada kecemasan yang saya tangkap setiap kali berbicara dengan mahasiswa dan anak muda: takut tidak kebagian tempat. Lapangan kerja terasa sempit, persaingan terasa brutal, dan sekarang ditambah satu lagi, kecerdasan buatan yang katanya akan mengambil alih banyak pekerjaan. Kecemasan itu wajar. Tetapi saya ingin menawarkan cara pandang yang sedikit berbeda.
Sepanjang sejarah, teknologi memang menghapus pekerjaan, dan selalu menciptakan pekerjaan baru yang belum ada namanya. Sepuluh tahun lalu tidak ada profesi content creator yang menghidupi jutaan orang. Yang berbahaya bukan perubahannya, melainkan berdiri diam di tengah perubahan. Maka pertanyaan yang tepat bukan "pekerjaan apa yang aman?", melainkan "kemampuan apa yang membuat saya terus bisa berpindah?"
Dari pengalaman saya bekerja di beberapa sektor sekaligus (pangan, keuangan, teknologi), ada tiga kemampuan yang nilainya justru naik di era mesin pintar. Pertama, kemampuan memahami masalah nyata: mesin pandai menjawab, tetapi manusia yang menentukan pertanyaannya. Orang yang paham betul masalah di kandang ayam, di pasar, di sekolah, akan selalu dibutuhkan untuk mengarahkan teknologi. Kedua, kemampuan dipercaya: reputasi, integritas, rekam jejak menepati kata, hal-hal yang tidak bisa diunduh. Ketiga, kemauan mengerjakan hal yang tidak glamor: sektor riil Indonesia (pertanian, logistik, manufaktur) kekurangan anak muda justru karena semua mengantre di sektor yang terlihat keren.
Untuk pembuat kebijakan, pekerjaan rumahnya jelas: pendidikan vokasi yang benar-benar tersambung dengan industri, bukan sekadar ijazah. Akses modal untuk anak muda yang mau berusaha, bukan hanya lowongan untuk yang mau melamar. Dan internet yang merata, karena keterampilan hari ini dipelajari secara daring, anak yang tidak terkoneksi otomatis tertinggal dua langkah sebelum lomba dimulai.
Generasi muda Indonesia adalah generasi terbesar dan terdidik dalam sejarah negara ini. Bonus demografi hanya menjadi bonus kalau kita menyiapkannya. Kalau tidak, ia menjadi tagihan. Pilihan itu dibuat sekarang, di ruang kelas, di ruang rapat anggaran, dan di keputusan setiap anak muda untuk terus belajar satu kemampuan baru lagi.
Disarikan dari berbagai diskusi dengan mahasiswa dan komunitas anak muda sepanjang 2025–2026.